INSA Jaya bersama puluhan pelayaran yang beroperasi di pelabuhan Tanjung Priok melakukan evaluasi pemberlakuan Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) Bea Cukai, bertempat di Kantor DPC INSA Jaya, Jakarta Utara, kemarin.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Capt. Supriyanto, Sekretaris DPC INSA, dibantu oleh sejumlah pengurus lainnya.

Dalam evaluasi sistem itu, mayoritas pelayaran (keagenan) kapal asing tersebut mengkhawatirkan kalau sistem CEISA down, karena dapat menghambat layanan kegiatan arus kapal dan barang di pelabuhan.

Sebagaimana yang pernah terjadi pada bulan Januari 2018 lalu (Rabu, 17/1-Kamis 18/1), layanan penerimaan dokumen secara online kepabeanan ekspor impor sempat kacau, karena sistem pelayanan dan pengawasan CEISA Ditjen Bea dan Cukai (BC) terganggu.

“Hasil evaluasi itu, kami akan sampaikan kepada pihak Bea Cukai agar dijadikan sebagai evaluasi pula oleh mereka,” kata Capt. Supriyanto, kepada Ocean Week, di Tanjung Priok.

Supriyanto mengakui, jika sistem itu down, dipastikan layanan barang ekspor impor akan terganggu, karena dokumen tidak dapat diakses. “Ini yang kami minta supaya bagaimana sistem tersebut tidak terganggu. Karena jika sampai down, akan merugikan pelaku usaha. Misalnya penarikan peti kemas impor yang hendak dilakukan pemeriksaan fisik dari terminal peti kemas ke lokasi long room behandle tidak bisa terlayani, selain itu barang akan lebih lama tertahan di pelabuhan,” kata Manager Samudera Indonesia Tanjung Priok ini.

Para pelayaran juga menyatakan kalau gangguan terhadap sistem CEISA ini sudah beberapa kali terjadi. Makanya mereka (pelayaran-red) minta kepada pengurus INSA Jaya untuk bisa menjembatani dan menyampaikan aspirasi mereka ke pihak Bea Cukai, supaya sistem ini terus berjalan normal.

Mendapat amanat dari para pelayaran tersebut, Supriyanto sekali lagi akan menyampaikannya kepada pihak Bea Cukai.

Seperti diketahui bahwa CEISA adalah sistem Integrasi seluruh layanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada semua Pengguna Jasa yang besifat publik sehingga semua Pengguna Jasa sebagai user dapat mengakses dari manapun, kapanpun berada dengan koneksi internet. Oleh karena itu, CEISA dapat disebut sebagai aplikasi tumpuan Bea dan Cukai.

Pada tahun 2011 dimulailah konsep pengembangan TIK di DJBC yang dikenal dengan CEISA tersebut dengan prinsip-prinsip, Centralized, yakni arsitektur sistem TIK yang tersentralisasi, Integrated, yakni sistem aplikasi yang terintegrasi dan terpadu, Inter-Connected, yakni sistem aplikasi yang terhubung dengan entitas eksternal terkait, dan Automated, yakni sistem aplikasi yang full automation.

Selain di Tanjung Priok, sistem ini juga diberlakukan di Tanjung Emas Semarang, Tanjung Perak Surabaya, dan pelabuhan lainnya di Indonesia. (***)