Hampir setengah hari ini (Senin, 5/2), para wartawan peliput sektor kepelabuhanan di Pelindo II diajak mengunjungi dan melihat langsung kegiatan di TPK Koja, Car Terminal, dan NPCTI.

Sebelum para jurnalis safari di sejumlah terminal di Priok, kegiatan yang dilebel ‘Port Visit PT Pelindo II’ tersebut, dimulai dengan acara diskusi dan tanya jawab antara para jurnalis dengan pemangku kepentingan di pelabuhan Priok, antara lain Kepala Otoritas Priok Arif Toha, Kepala KPU Bea Cukai Dwi Teguh, Kepala Kantor Syahbandar Priok Capt. Sudiono, Dirut Pelindo II Elvyn G. Masassya, dan Kapolres KPPP Tanjung Priok.

Berbagai hal dibahas pada kesempatan itu, misalnya tentang kinerja 24/7, kinerja Pelindo II tahun 2017, sampai rencana kedepan BUMN plat merah tersebut.

Diluar hal-hal tersebut, Ocean Week mencoba menggali informasi lebih dalam dan menanyakannya kepada Prasetyadi, Direktur Operasi PT Pelindo II, terutama tentang TPK Koja, Car Terminal, dan NPCT1.

Untuk TPK Koja, kata Prasetyadi, tahun 2017 berhasil menangani throughput tembus 1 juta TEUs. “Pada 2018 TPK Koja akan mengganti 3 CC yang ada dengan membeli baru 3 CC super post panamax. Dengan penggantian peralatan bongkar muat itu diharapkan kinerjanya semakin membaik,” ujarnya.

Tahun 2018 ini, ucap Haryanto, Kahumas TPK Koja menambahkan, target throughput berkisar 850 ribu TEUs. Target tersebut menurun dibandingkan pencapaian di 2017, karena TPK Koja sedang ada pembangunan sejumlah fasilitasnya.

Reklamasi pembangnan NPCT2 terus dikerjakan. Tampak pada gambar lokasi reklamasi. Poto diambil Senin (5/2).

Reklamasi pembangnan NPCT2 terus dikerjakan. Tampak pada gambar lokasi reklamasi. Poto diambil Senin (5/2).

Selain TPK Koja, Prasetyadi juga bercerita bagaimana pencapaian NPCT1 di tahu 2017 yang mencatatkan sekitar 800 ribu TEUs. “Dengan pencapaian 800 ribu TEUs dan kapasitas terpasang terminal ini hanya 1,5 juta TEUs, mesti sudah dipikirkan untuk merealisasikan NPCT2,” ungkap mantan Dirut PT Teluk Lamong itu.

Kepada Ocean Week, Prasetyadi menyatakan jika target throughput NPCT1 di 2018 sebesar 1,1 juta TEUs. “Baru dua tahun beroperasi saja sudah berhasil menangani sebesar itu (800 ribu TEUs-red),” katanya.

Menurut dia, di NPCT2, nantinya kinerja operasional dilakukan secara full automatic system. Beda dengan di NPCT1 yang masih semi automatic.

Prasetyadi pun kembali bercerita bagaimana saat ini, pihaknya sedang melakukan reklamasi terhadap pembangunan NPCT2. “Tahun 2019 harus sudah beroperasi, termasuk pusat logistik juga mesti sudah selesai dibangun,” ucapnya.

Sementara itu, sewaktu rombongan visit di dermaga Car Terminal (PT Indonesia Kendaraan Terminal/IKT), tampak sedang ada sandar kapal Wallenius Wilhelmsen. Menurut Chiefy Adi K, kapal ini mampu memuat sebanyak 4.000 unit kendaraan (mobil). “Saat ini hanya memuat 1.000 unit dari IKT, biasanya sampai 2.000 unit,” kata Chiefy yang di persilakan Prasetyadi untuk menjelaskan kepada para jurnalis dari berbagai media di negeri ini.

Diajaknya para wartawan melihat langsung aktivitas pelabuhan, ujar Prasetyadi, semata untuk menambah wawasan agar lebih memahami dan mendalami tentang kepelabuhanan. (***)