Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menargetkan implementasi sistem digitalisasi dalam bisnis angkutan barang dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok dapat dilaksanakan pada triwulan pertama 2018 setelah dirampungkannya kordinasi persiapan dengan seluruh stakeholders dan instansi terkait.

Ketua DPD Aptrindo DKI Jakarta, Mustadjab Susilo Basuki mengatakan, dengan digitalisasi itu diharapkan dapat menekan biaya logistik dari dan ke Priok diatas 10% sedangkan penghematan biaya operasional pengusaha truk bisa mencapai diatas 25%.

“Sudah saatnya kita siapkan dan implementasikan sistem digital (digitaliasi) bisnis angkutan barang.Kita mulai dari pelabuhan Priok terlebih dahulu mengingat hampir 65% volume ekspor impor nasional dilayani melalui pelabuhan Priok,” ujarnya saat Seminar & Rapat Kerja Daerah I Tahun 2017 DPD Aptrindo Provinsi DKI Jakarta bertema ‘Era Digitalisasi Dalam Bisnis Angkutan Barang’, di Jakarta pada Rabu (22/11).

Hadir pada Rakerda tersebut antara lain, Kadishub Provinsi DKI Jakarta, Andri Yansyah, manajemen PT.Pelindo II, asosiasi pelaku usaha di pelabuhan Tanjung Priok dan 400-an perusahaan angkutan truk anggota Aptrindo di DKI Jakarta.

Mustadjab mengatakan, dengan digitaliasi bisnis angkutan barang bisa menghilangkan pungli dan adanya keteraturan pergerakan truk sesuai jadwal pengangkutannya/delivery dari dan ke pelabuhan Priok.

“Digitalisasi bisnis angkutan barang juga bisa memperoleh data akurat pergerakan truk dan berapa besar supply dan demandnya di pelabuhan,” paparnya.

Menurut dia, selama ini di  pelabuhan Priok tidak ada data akurat pergerakan truk dari dan ke pelabuhan tersebut setiap harinya sehingga menyulitkan pihak terkait mengatur rekayasa lalu lintas.

Dia mengatakan, digitalisasi juga untuk menghindari tatap muka kegiatan bisnis angkutan barang dari dan ke pelabuhan di Tanjung Priok, tetapi semuanya berpulang pada masing masing operator truk.

“Soalnya, selama ini pola kerja angkutan barang itu sangat bergantung pada pengemudi. Intinya suka suka sopir dianmau narik jam berapa.Kondisi ini menyebabkan pergerakan truk tidak bisa di prediksi. Kalau sudah digunakan digitalisasi maka pergerakan truk barang sudah terjadwal untuk hindari kemacetan,” ungkapnya.

Dia juga menyatakan untuk mendukung digitalisasi bisnis angkutan barang di Pelabuban Priok akan diberlakukan truck booking return cargo system (TBRCs) agar setiap truk yang keluar masuk pelahuhan sudah terjadwal dengan baik.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Andri Yansyah mengatakatan, Pemda DKI mengapresiasi program digitalisasi sistem bisnis angkutan barang di Ibukota.

“Pemprov tentunya mengapresiasi hal ini, tetapi yang paling penting juga mesti di support semua pengusaha dan operator truk,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kadishub Provinsi DKI Jakarta juga menyerahkan sertifikat kompetensi pengemudi bagi angkutan barang beracun dan berbahaya (B3) kepada perusahaan anggota Aptrindo DKI Jakarta.

Sertifikasi kompetensi pengemudi itu diterbitkan okeh lembaga insan prima (LIP) yang merupakan lembaga sertifikasi dan kompetensi bidang logistik yang diprakarsai Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Depo Kontener Indonesia (Asdeki) dan Aptrindo. (***)