Niatan mewujudkan Tanjung Priok sebagai transhipment port terus dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Bahkan Dirut PT Pelindo II Elvyn G. Masassya menyatakan siap menjawab keinginan Menhub Budi Karya Sumadi menaikkan volume bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok dari 7 juta TEUs menjadi dua kali lipat, namun dengan satu syarat menjadikan pelabuhan ini transhipment port.

“Pak Menhub (Budi Karya Sumadi) minta kargo di Tanjung Priok jangan hanya 7 juta TEUs, tapi dua kali lipatnya. Apakah itu relevan? Menurut saya iya. Transhipment port solusinya,” jawab Elvyn dihadapan peserta diskusi nasional yang digelar Ocean Week bersama Chandra Motik Maritime Center, di Jakarta, kemarin.

Elvyn mengungkapkan bahwa saat ini volume bongkar muat di Tanjung Priok masih dikisaran 7 juta TEUs. “Tapi kalau New Priok Container Terminal (NPCT) II dan NPCT III sudah rampung maka ada potensi peningkatan hingga 11,5 juta TEUs,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sewaktu menjadi keynote speech pada acara diskusi transhipment Jakarta Port menyatakan keinginannya agar volume bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok bisa naik dua kali lipat menjadi 15 juta TEUs per tahun. Menhub mentargetkan hal itu dapat tercapai dalam kurun waktu 3 tahun mendatang.

“Kalau bicara ambisi, dalam 3 tahun bisa dua kali lipat. Mudah-mudahan teman-teman industri kompak. Sebab, kalau semua kompak, kita bisa,” ujarnya.

Oleh karena itu, Menhub berharap Pelabuhan Tanjung Priok dapat menjadi transhipment port. Budi Karya mengimbau kepada pemilik barang dan perusahaan pelayaran supaya barang-barang ekspor dari daerah dibawa ke Jakarta, dan dikapalkan lewat kapal besat disini.

“Dengan demikian volume bongkar muat dapat semakin meningkat dan lebih ekonomis. Jika harga di Tanjung Priok bisa bersaing maka bakal mengundang perusahaan pelayaran besar untuk sandar di Jakarta,” ujar Menhub.

Menhub mencontohkan bahwa sekarang kapal-kapal milik CMA-CGM sudah rutin sandar di Tanjung Priok seminggu sekali. “Itu merupakan tanda bahwa Pelabuhan Tanjung Priok sudah memiliki daya saing yang tak kalah dengan pelabuhan lain di dunia,” ungkapnya.

Meskipun demikian, dia mengakui jika masih ada sejumlah kendala di Tanjung Priok. Antara lain mengenai proses pengurusan dokumen yang masih lama dan tarif yang belum kompetitif.

Untuk itu, Menhub Budi Karya mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak terkait seperti BPPOM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Bea Cukai. “Terkait harga, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman tengah menginventarisir harga yang diterapkan di Tanjung Priok. Memang ada indikasi harga di Tanjung Priok kurang kompetitif. Kami secara terbuka akan bandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan lain yang menjadi kompetitor,” jelasnya.

Sementara itu, Elvyn menambahkan, secara infrastruktur Pelabuhan Tanjung Priok juga sudah siap. Kedalaman kolam sudah mencapai 16 meter. Fasilitas tersebut merupakan syarat agar kapal kontainer raksasa (mother vessel) bisa sandar.

Dari sisi suprastruktur, Elvyn mengatakan bahwa Tanjung Priok bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura. Sebab, Tanjung Priok sudah menerapkan digitalisasi sehingga proses pengurusan dokumen lebih cepat dan efisien.

Asmari Herry, Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia bidang Perhubungan, menyatakan bahwa untuk menjadi transhipment port, Tanjung Priok masih perlu waktu. “Namun jika pemerintah mau, dan niat, bisa. Tergantung mau atau tidak pemerintah mewujudkannya, karena potesinya ada. Tapi untuk saat ini Tanjung Priok bisa disebut gateway,” katanya.

Direktur Bea Cukai Fajar Doni mengungkapkan bahwa pihaknya akan mendukung Tanjung Priok menjadi transhipment port. (***)