Layanan sandar Kapal di terminal domestik Belawan masih sering mengantre, bahkan bisa sampai berhari-bari baru mendapat tempat untuk sandar. Akibatnya, tidak sedikit pengguna jasa yang dirugikan karena hal itu.

Amari Herry, Ketua Komtap Sarana dan Prasarana Perhubungan Kadin Indonesia, mengatakan itu kepada Ocean Week, di Jakarta, Kamis sore (2/11). “Kita berharap operator terminal segera membenahi layanan sehingga pengguna jasa dapat memperoleh kepastian berkegiatan disana (terminal domestik Belawan-red),” ujarnya.

Menurut Asmari, kondisi tersebut terjadi dikarenakan adanya peralatan bongkar muat (crane) di terminal ini tidak dapat difungsikan. “Tapi, sebagai pengguna jasa (pelayaran) tak bisa apa-apa dan hanya bisa menerima,” ungkapnya lagi.

Sementara itu, Ocean Week yang melakukan investigasi di Belawan, kamis (2/11) melihat ada kegiatan kapal Armada Papua yang sedang sandar di dermaga 103 membongkar muat petikemas.

Kapal milik Pelayaran SPIL tersebut rutin melayari Belawan – Jakarta. Setidaknya sekitar 1.000 box diangkut pada setiap pelayarannya. Ada kontainer full, maupun empty yang dibawanya.
Mayoritas barang yang diangkut adalah hasil bumi dari Sumatera Utara, kerajinan dan lain lain,  untuk memenuhi pasar di Pulau Jawa. “Sebelum diangkut, barang ditimbun dipenumpukan Kawasan Industri Medan (KIM), di daerah Mabar,” ungkap Junaidi dari Pelayaran SPIL kepada Ocean Week.
Kata Junaidi, bongkar muat dari dan ke kapal Armada Papua memakan waktu empat hari. Padahal menggunakan dua crane kapal dan satu crane darat. Makanya, berpengaruh terhadap produktifitas bongkar muat.
Junaidi berharap, kedepannya dalam rangka meningkatkan produktifitas bongkar muat, agar penyediaan alat bongkar muat (crane darat) dapat diupayakan, termasuk TKBM-nya.
Sementara itu, Humas Pelindo Cabang Belawan Khairul Ulya yang dikonfirmasi menyatakan akan memperhatikan informasi yang ada dilapangan. (Ratman/ow)