Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Indonesia pada tahun 2016 mengimpor beras sebanyak 1,2 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2015 yang tercatat 0,9 juta ton.

“Impor beras tinggi pada Januari-Maret itu karena sisa kuota impor yang kontraknya pada 2015 lalu masuk pada awal triwulan III,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Sasmito Hadiwibowo kepada wartawan di Kantor BPS Jakarta Pusat, Kamis ( 29/12).

Menurut Sasmito, angka impor beras mengalami penurunan jika dibandingkan periode Januari-Maret 2016. Meski mengakui tetap ada impor beras, kata dia, beras yang diimpor hanyalah beras dengan kualitas premium.
Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menyatakan, sepanjang 2016, impor beras hanya untuk kualitas premium.

Berdasarkan data BPS, nilai impor beras pada periode Januari-November 2016 adalah US$ 495,12 juta. Angka ini mengalami kenaikan dari angka tahun sebelumnya, yaitu US$ 351,60 juta.
Adapun volume ekspor beras pada Januari-November 2016 adalah 1.000 ton. Angka ini juga mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu 0,5 ribu ton. Sedangkan nilai ekspor beras Januari-November adalah US$ 0,86 juta dan mengalami kenaikan dari nilai ekspor beras tahun sebelumnya, yakni US$ 0,63 juta.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat impor beras Indonesia dari negara lain mencapai US$ 351,60 juta atau sekitar Rp 4,78 triliun sepanjang 2015. Ada lima negara penyuplai beras terbesar ke Indonesia, tertinggi berasal dari Vietnam.

Vietnam memasok US$ 202,56 juta (57,61 persen) ke Indonesia. Disusul Thailand dengan nilai impor beras US$ 66,77 juta (18,99 persen) dan Pakistan senilai US$ 62,95 juta (17,90 persen).

Kemudian India dan Myanmar yang masing-masing memasok beras ke negara ini senilai US$ 13,67 juta (3,89 persen) dan US$ 2,73 juta (0,78 persen).

Pengapalan beras impor tersebut, pada umumnya melalui pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan pelabuhan lain di Indonesia. (***)