Harga minyak dunia yang masih rendah atau rata-rata masih dikisaran US$ 40 per barrel menjadi salah satu penyebab belum bangkitnya usaha bidang offshore. Makanya sebagian besar perusahaan minyak masih menunda proyek-proyek eksplorasi terutama yang berkaitan dengan proyek laut dalam.

“Saat ini proyek yang jalan hanya yang berkaitan dengan kegiatan produksi saja, bukan eksplorasi,” kata Managing Directore PT Pan Maritime Wira Pawitra Nova Y. Mugijanto kepada Ocean Week, di Jakarta.

Sebagai pebisnis pelayaran sector offshore, Nova merasa prihatin dengan kondisi perekonomian hingga sekarang belum membaik yang kemudian berimbas pada wait and see-nya bisnis offshore. Dengan kondisi itu, berujung pada populasi kapal-kapal offshore yang sekarang ini cenderung oversupply, sehingga kondisi “perang harga” tidak dapat dihindari.

“Krisis tersebut juga menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan perbankan kepada industri offshore sehingga menyulitkan industry ini untuk bertahan apalagi berkembang,” ungkapnya.

Dalam kondisi yang demikian itu, banyak diantara mereka sebenarnya berharap pemerintah dapat mencarikan solusi, namun justru saat ini dukungan pemerintah sangat rendah di dalam menghadapi situasi ini.

“Padahal perlu ada stimulus apakah berupa reformasi kebijakan-kebijakan dalam hal perijinan maupun pemberian tax holiday kepada oil company di masa krisis ini yang diharapkan dapat mengurangi resiko explorasi. Sehingga bisnis offshore dapat bergairah lagi dan bisnis pelayaran offshore sebagai penunjangnya juga dapat membaik,” ujar Nova.

Ketika ditanya berapa banyak usaha pelayaran sector offshore yang kolaps, Nova dengan diplomatis menjawab tidak memiliki data akurat, tapi yang pasti hampir seluruh perusahaan pelayaran offhore di Indonesia terkena dampak tanpa terkecuali. “Baik itu akibat pemutusan kontrak maupun penurunan harga sewa,” jelasnya.

Nova menyarankan untuk kemajuan sektor pelayaran migas di Indonesia agar memaksimalkan penggunaan kapal berbendera Indonesia dan menutup sementara supply kapal-kapal offshore baru maupun bekas ke Indonesia sampai dengan terjadi keseimbangan antara supply dan demand. “Terutama untuk kapal-kapal yang jelas-jelas sudah banyak populasinya di Indonesia,” katanya. (ow)